Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

MENSYUKURI HARI KEBEBASAN KYAI HERU, PASCA MENJALANI MASA HUKUMAN 3 BULAN


LBH PU News – Mojokerto“Semua tertib administrasi menjelang hari kebebasan Kyai Heru Ivan sudah selesai,” penjelasan Penasihat Hukum Kyai Heru yaitu advokat Budi Harjo. Kyai Heru adalah klien LBH Pelita Umat Korwil Jawa Timur yang telah divonis 3 bulan penjara potong tahanan. Kasus yang menjeratnya adalah dakwaan terhadap pelanggaran UU ITE pasal 28 ayat (2), setelah ada laporan. Sebetulnya yang telah dilakukan Kyai Heru murni adalah amar ma'ruf nahi munkar, sehingga tidak boleh dikriminalisasikan.

Pra-Peradilan sempat digelar karena permohonan Penasihat Hukum terdakwa, dengan putusan ditolak Pengadilan. Lalu proses peradilan pokok perkara di Pengadilan Negeri Mojokerto berjalan tahap demi tahap, mulai pembacaan dakwaan, penghadiran saksi dan keterangan ahli, pembacaan tuntutan, pledoi, replik, duplik dan terakhir pembacaan putusan.

Dari tuntutan jaksa penuntut umum sebesar 3 bulan penjara potong tahanan, Hakim Ketua memutuskan (30/10) sama persis dengan tuntutan yaitu 3 bulan penjara potong tahanan. Meskipun penasihat hukum sempat menyatakan ‘pikir-pikir’, putusan hakim akhirnya diterima. Setelah Kyai Heru menjalani masa hukuman (dengan masa tahanan 2 bulan lebih) di Lapas  kelas II B jalan Taman Siswa Mojokerto selama 3 bulan, tibalah hari pembebasan Kyai Heru hari Rabu (13/11), dijadwalkan pelepasannya pagi jam 08.00 setelah apel pagi.


Para santri dan muhibbin Kyai Heru tetap setia mendampingi semua proses peradilan yang dijalani Kyai Heru.  Begitu juga para kyai, ulama dan asatidz kolega Kyai Heru, secara tulus memberikan dukungan dengan bezuk ke Lapas, hadir di Pengadilan, membuat pernyataan di meme atau vlog.

Semuanya lega dan bahagia penuh kesyukuran menyambut hari pembebasan Kyai Heru esok hari, terutama tentunya pihak keluarga Kyai Heru.

Selama menjalani masa hukuman, Kyai Heru merasakan pengalaman spiritual yang luar biasa. Pengalaman spiritual Nabi Yusuf, Imam Hambali, Sayid Quthub, M. Natsir atau Buya Hamka, menjadi pengalaman Kyai Heru juga. Insya Allah, penjara dapat menjadi penyempurna sebagai pendakwah dan ulama waratsatul anbiya.” Kyai Heru semakin kharismatis.[] rif

Posting Komentar

0 Komentar