Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Kristalisasi Pemahaman Umat



Hari ini di Monumen Nasional (MONAS), Jakarta, 2 Desember 2019, usai sudah momen reuni 212, sebuah kegiatan besar ummat islam Indonesia yang ke 4 kalinya. Tahun ini reuni bertepatan dengan suasana Maulid Nabi Muhammad SAW, sehingga makin membuat semangat peserta yang hadir.

Tak banyak yang berubah, suasana peserta tetap ramai, sehingga kami harus berjalan kaki dari hotel menuju ke tempat acara. Semangat ukhuwah tampak nyata ada peserta yang sengaja membagikan makan pagi, ada yang menyediakan sarana berobat, ada yg membagikan kopi gratis, dll. Peserta juga amat tertib, berjalan sesuai arahan panitia, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menginjak rumput, dll. Sebuah kegiatan besar yang patut diacungin jempol, didasarkan pada kesadaran tinggi pengamalan ajaran islam.

Pembicara yang dinanti Imam Besar Habib Rizieq tidak bisa hadir karena masih dicekal untuk pulang ke tanah air. Meski cukup terobati dengan pembukaan oleh gubernur Anies Baswedan dan hadirnya beberapa pejabat diantaranya gubernur Sumatera Barat dan tokoh seperti ibu Titiek Soeharto.

Sambutan Imam besar Habib Rizieq dalam pidato online via internet mengamanatkan 5 amanat perjuangan utama yaitu:

1. Jagalah tradisi reuni 212 dengan segala keindahan, kedamaian, kedisiplinan dan kebersihannya. Tunjukkan pada dunia bahwa ummat islam berakhlaq mulia.

2. Jangan pernah putus asa dalam perjuangan menegakkan keadilan. Hapus kata putus asa dalam perjuangan menegakkan keadilan.
Bila seribu kali gagal menegakkan perjuagan keadilan maka seribu kali kita tegak kembali.
Jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah.

3. Percaya dan yakinlah janji Allah Swt. Jangan sampai satu dua kegagalan, memupus kemenangan dan memudarkan keyakinan kita kepada pertolongan Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT tidak pernah mengingkari janjiNya.
Siapa yg berjuang di jalanNya, pasti menang

4. Teruslah berjuang dengan keikhlasan dan kebwrsamaan. Pertolongan Allag Swt ada pada keikhlasan dan berjamaah/bersama/bersatu.
Segala apapun kekuatan kita, bila belum ada pertolongan Allah SWT maka kemenangan tidak menghampiri kita. Begitu juga, sekalipun kita memiliki kelemahan dalam perjuangan, bila sdh datang pertolongan Allah SWT maka kemenangan akan menghampiri kita.
Untuk mendapatkan pertolongan, maka kita perlu bertaqwa kepada Allah SWT melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi seluruh laranganNya).

5. Jangan pernah berhenti membela agama, bangsa dan negara. Negeri kita saat ini telah terjadi keanekaragaman penghinaan, mis: adanya yang membandingkan Nabi dengan ayahnya, ada yang mengatakan nabi masa kecil dekil, ada yang mengatakan agama Islam agama teroris. Ini semua merupakan penodaan agama, yang hukumnya adalah hukum mati (hukum agama). Saat ini tidak ada hukum yang tegas dan ada pembiaran para penista agama, maka kita gelar aksi bela agama berjilid ke seluruh negeri sampai penista ini di penjara. Bila ini juga tidak dilakukan, maka jangan salahkan bila umat Islam mengambil tindakan sendiri kepada penista agama dengan menerapkan hukum mati. Dan beliau mengingatkan agama apapun tidak boleh dihina, dilecehkan dan dinistakan,apalagi agama Islam merupakan agama mayoritas penduduk negeri ini.

Penulis mengibaratkan momen 212 ke 4 ini sebagai sebuah kristalisasi kental kalangan ummat islam akan pemahaman keislamannya paling tidak terlihat hampir semua peserta membawa bendera tauhid baik ar-raya' maupun al liwa, spanduk spanduk besar bertuliskan cinta islam.cinta rasul dan sekaligus bangga berfoto bersama berdera kebanggaannya, menandakan pemahaman yang makin mengental bahwa ummat islam punya bendera persatuan sekaligus ajaran yang paripurna pengatur kehidupan manusia. Bendera ormas dan organisasi makin berkurang, kecuali atribut pakaian saja sebagai penanda. Kristalisasi ini sebagai jawaban keras kalangan ummat islam terhadap pihak-pihak yang berusaha membranding ajaran ISLAM PARIPURNA dengan RADIKALISASI.

Massa 212 ini kini berusia 4 tahun, ibarat anak kecil dia mulai lincah berlari, berbicara dan berpikir mendalam. Peristiwa-peristiwa politik belakangan tampaknya menjadi pelajaran amat penting bahwa perlu ukhuwah islamiyah yang lebih intensif, perlu saling menguatkan yg lebih terarah dan perlu sandaran pemahaman islam.yang lebih sahih. Semoga kedepan ummat islam menjadi makin mandiri dan menjadi penentu arah peristiwa politik di negerinya sendiri. Semoga Indonesia menjadi baik dan kuat ditangan para pembela islam. Aamin

Jakarta, 2/12/2019
Fakhri 'Athif

Posting Komentar

0 Komentar