Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Radikalisme, 212 dan Bom


Ki Tanggul Bengawan Solo

Di balik menguatnya narasi war on radikalisme diiringi dengan berbagai ragam penistaan agama terhadap Nabi SAW siapa yang sangka ternyata ada Tim Khusus sebagai pencipta core idea nya· Tim khusus yang dalam periodisasi pergantian rezim memiliki peran dominan mempengaruhi kebijakan rezim·

Menguatnya propaganda opini narasi war on radikalisme yang dibenturkan dengan pilar pilar kebangsaan seperti Pancasila, UUD 1945, dan NKRI· Bukan saja terhadap pilar pilar kebangaaan melainkan juga mengcreate skenario benturan sesama muslim dengan dikotomi Islam Radikal versus Islam Moderat· Itu semua, hasil dari political and social engineering kelompok elit yang saat ini bercokol di dalam tubuh rezim· Penampakan yang ada di permukaan dalam bentuk gejala masifnya penistaan agama hanyalah pion pion yang dimainkan untuk kepentingan pengaruhnya·

Lembaga ini berinisial C generasi kedua dengan aktor tiga serangkai. Pertama, berinisial H yang bertugas di lembaga berinisial B. Kedua, berinisial ES yang saat ini mengendalikan pikiran para stafsus milenial yang minim pemahaman politik dari keturunan beberapa bohir rezim. Dan ketiga berinisial ND sekarang menjadi salah satu deputi KSP·

Pasca 212 baru saja hari ini 3 Desember 2019 dikagetkan pula oleh sebuah ledakan. Santernya info tentang heroiknya 212 sebagai simbol kekuatan politik umat yang disebut sebagai ganjalan pasca bersatunya 01 dan 02 seolah tenggelam oleh hiruk pikuknya bom berkaitan dengan spekulasi siapa bermain apa dalam kaitan ini.

Seolah mengonfirmasi sebuah teorema dalam radikalisme dan terorisme. Pertama, Terorisme - Kontra Terorisme - Hard Power - Densus 88. Kedua, Radikalisme - Kontra Radikalisme - Soft Power - BNPT. Ujungnya adalah stigmatisasi. Secara faktual radikalisme dan terorisme dialamatkan pada Umat Islam dan Islam.

Opini meledaknya bom nampaknya menjadi sebuah komoditi berita menarik yang berpotensi menggerus opini lain. Kita lihat ke depan seberapa optimal berita bom berada pada posisi trending topic hingga melibas semua opini sengkarut persoalan kebijakan rezim yang baru dilantik dalam KIM. Dan menggerus opini komitmen perjuangan umat yang dikokohkan melalui Reuni 212 tentang perlawanan terhadap ketidakadilan, ketidakjujuran, dan kedhaliman.

Termasuk komitmen akan kebangkitan kekuatan Islam yang direpresentasikan akan tegaknya khilafah Islamiyah 'ala minhajin nubuwwah. Diperlukan kepekaan politik yang tinggi untuk mengurai sembari terus melakukan edukasi dan konsolidasi di berbagai simpul umat. Kekuatan Dajjal sedang bergerak secara masif hingga membuat formula makar melalui tangan dan mulut mulut mereka. Tapi yakinlah Allah SWT sebaik baik pembuat makar. Allahu a'lam bis showab. []

Posting Komentar

0 Komentar