Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

MATINYA LOGIKA HUKUM DI NEGERI DEMOKRASI


Oleh : Abd. Latif

 “Tidak ada lawan yang abadi, tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi” inilah motto dari demokrasi. Demokrasi tercipta hanya untuk mengkompromikan kepentingan-kepentingan para pemilik modal. Mereka saling berkompromi ketika ada celah kesamaan dalam target-terget atau tujuan yang akan diraih. Tak peduli apakah jalan yang mereka tempuh itu termasuk jalan yang haq atau batil, benar atau salah, jujur atau curang. Kebohongan, kecurangan, penipuan, dan bahkan saling tikam mewarnai kompetisi dalam demokrasi. Bahkan seorang pakar hukum pun yang telah menyandang gelar profesor berkata “ kebohongan dan kecurangan, adalah bagian dari demokrasi”

 Dari sini kita sebenarnya bisa memahami, bahwa untuk mencari keadilan hukum tidak ada dalam system demokrasi. Maka sia-sialah mereka yang berharap banyak dalam system demokrasi ini. Dalam sepanjang sejarah demokrasi, dan bahkan dari negeri awal munculnya demokrasi, tak pernah ada sejarah yang mencatat adanya kesejahteraan dan keadilan sebagimana kisah para khulafa’ urrosidin. Kita tahu bagaimana keadilan Umar Bin Khottob, bagaimana keadilan Ali bin Abi Tholib, Bagaimana keadilan dan kesejahteraan Umar Bin Abdul Azis dan lain-lain. Bahkan sekarang ini yang terjadi adalah sebaliknya.

 Dinegeri demokrasi ini hukum serasa seperti tumpul ke atas dan tajam ke bawah, atau bahkan seperti hukum anjing. Jika anjing yang telah mengendalikan hukum, maka siapa saja yang memberi tulang akan siap dilindunginya. Karena anjing akan lebih tunduk pada majikannya atau tuannya. Siapa saja yang datang untuk mencari keadilan tampa membawa tulang dunia tak mungkin dapat dilayani, justru malah-malah bisa di jadi tertuduh dalam kasus yang dihadapi.

 Matilah sudah logika hukum di negeri demokrasi. Keadilan hanya sebatas retorika pemanis bibir belaka. Lihat saja berbagai peristiwa belakangan ini. Pengrusakan tempat ibadah kaum muslimin tak mendapat respon dan perlindungan, tapi ketika tempat ibadah orang kafir yang dirusak sebulan jadi hotline diseluruh media. Seorang wanita kafir yang masuk masjid tanpa melepas alas kaki dan bawa anjing dinyatakan stress/gila sehingga beres masalah. Orang gila dnyatakan tidak bersalah ketika membunuh ulama’ atau kiai dan bahkan merusak masjid. Karena dalam kitab mereka tidak ada hukum bagi orang gila/stress. Sementara jika orang gila menguntungkan mereka, mereka data dan dinyatakan syah saat nyoblos dalam Pilpres 2019.

 Demikian juga ketika foto dan video Vanessa angel bisa dijadikan bukti dalam persidangan dan itu dinyatakan syah, juga foto dan video Habib Rizieq menjadi bukti syah dalam persidangan, sedangkan foto dan video kecurangan Pilpres tak bisa dijadikan bukti di Mahkamah Konstitusi. Lihat juga apa yang alami Buni Yani pelapor kasus penistaan agama kini mendekam karena dianggap membuat gaduh walau apa yang dilaporkan sudah terbukti. Sementara pelapor chat HRS sampai hari ini tidak tahu kemana. Berita Medsos bisa jadi bukti untuk kebijakan mereka tapi tidak bisa jadi bukti dalam persidangan sengketa Pilpres. Lihat juga bagaimana pemuda pembawa bendera saat aksi yang kemudian mendekam di penjara, sementara pemuda China yang jelas-jelas menghina denga mengatakan kacung gua, dianggap main-main.

 Inilah hukum di negeri demokrasi yang dibangga-banggakan sebagian orang. Tak ada secuil keadilan pun yang tersimpan disana. Demokrasi ibarat sebuah ranjau atau jebakan, didesain begitu indah tapi sebenarnya menyesatkan, dan bahkan menghancurkan. Tidak ada secuilpun keadilan disana, yang ada hanya hegomoni para kapital pemilik modal dan pengusa. Masihkah kita berharap dari demokrasi ini ? tidakkah kita memilih islam sebagai solusi ? sungguh tidak ada kebaikan di dunia ini, kecuali dengan islam, maka berharaplah dan berjuanglah untuk tegaknya Syariah dan khilafah islam, jika engkau ingin selamat dunia dan akhirat. Sekali lagi jangan tertipu oleh ilusi dan kepalsuan demokrasi.

Posting Komentar

0 Komentar