Home

News update : FDMPB—Upaya konstruksi sejarah Islam di Nusantara kini menemukan momennya. Apalagi bersamaan dengan peringatan Tahun Baru Hijriyah 1442 H. Kajian mendalam dan kritis ini mendapat perhatian luas. Khususnya dari Intelektual Muslim Indonesia yang berhimpun dalam Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB). Akhirnya, FGD Online kelima diadakan Sabtu (29/8/2020) Pukul 08.00-11.30 WIB. Menghadirkan Intelektual yang berkompeten dibidangnya, di antaranya: Prof Dr-Ing Fahmi Amhar (Cendekiawan Muslim dan Peneliti), Dr Ahmad Sastra, MM (Dosen Filsafat Pascasarjana UIKA Bogor), Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA. (Guru Besar Pemikiran Islam UIN Ar Raniry Aceh), Drs. Moeflich Hasbullah, MA (Sejarawan Muslim dan Dosen), Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd (Sejarawan dan Penulis Buku Trilogi Revolusi Islam), dan Septian AW (Sejarawan Muda Komunitas Literasi Islam). Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

APA PERLU KITA PANGGIL AL MU' TASHIM?

Oleh: Heru Tri Yuwono

Belum kering air mata ini melihat penderitaan saudara muslim kita Palestina, Suriah, Roghinya, Uighur, kini muncul penderitaan atas pembantaian umat Islam di India.

Nyawa umat Islam seperti tiada artinya. Dianiaya, dibunuh melebihi perlakuan keji binatang.

Seolah penderitaan ini terus terjadi,tak kunjung padam, membara terus, setiap detik setiap waktu.

Apakah umat islam sedikit?
Umat islam banyak, tapi bagai buih dilautan. Terpecah pecah bagai perahu perahu kecil, yang oleng dan terombang ambing oleh gelombang yang dihempaskan kapal kapal besar kapitalisme.

Tidak adanya persatuan dalam naungan khilafah, menjadikan umat islam terkotak kotak, tersekat batas dan wilayah, dengan istilah negara bangsa.

Kemerosotan pemikiran islam dan juga sikap pemimpin negeri muslim yang acuh tak acuh dan masa bodoh atas penderitaan yang terjadi menambah panjang penderitaan  yang menimpa umat islam saat ini.

Mereka tidak merepresentasikan islam. Diam melihat pembantaian, bagai orang yang tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Padahal mereka mempunyai tentara dan alat perang yang canggih, yang dibeli dengan harga milyaran bahkan trilyunan dollar dari uang rakyat.

Negeri ini, juga tidak akan mungkin  mengirimkan tentaranya untuk membebaskan penderitaan dan menghentikan pembantaian umat muslim. Paling paling yang dilakukan hanya mengecam dan mengutuk, itu pun kalo sudah banyak desakan publik.

Tentara dan alat perang hanya digunakan untuk membungkam dan menakuti aktifis dan umat islam yang kritis.

Kredibilitas pemimpin negeri muslim jadi perlu kita pertanyakan?

Lupakah kita akan sejarah emas kepahlawanan yang ditorehkan pejuang pejuang islam masa lalu? Pejuang pejuang yang gagah berani, Dan menjadikan orang orang kafir takut dan keder tehadap umat muslim.

Al Mu'tashim Billah, khalifah dari Bani Abbasiyah yang menyahut seruan budak muslimah yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh tentara Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku, sehingga ketika berdiri wanita tersebut kelihatan sebagian  auratnya.

Kontan hal tersebut dibalas khalifah dengan mengerahkan tentara yang panjangnya dari kota Bagdad sampai kota Amuriah tanpa putus. Ia dan pasukannya mengepung kota Amuria selama 5 bulan hingga kota ammuriah dapat ditakukkan oleh khalifah Al Mu'tashim.

30.000 tentara Romawi tewas dan 30.000 lainnya menjadi tawanan.

Demi kehormatan budak muslimah, khalifah mempertaruhkan segala galanya untuk islam. Lantas bagaimana pemimpin pemimpin islam sekarang?

Jika darah dan air mata kaum muslimin masih terus mengalir...
Jika penderitaan dan pembantaian umat muslim tidak dapat dihentikan hari ini...

apa perlu kita panggil Al Mu'tashim? jika kita tak punya malu dan nyali.

Posting Komentar

0 Komentar