Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

KEMBALI KANTOR DPRD JATIM DIGERUDUK MASA, APA YANG MEREKA TUNTUT?


Surabaya - 13 Maret 2020 nampak ramai ribuan orang menggeruduk Kantor DPRD Provinsi Jawa Timur di Jl. Indrapura No.1 Surabaya melakukan unjuk rasa.  Terlihat dari berbagai poster dan spanduk yang mereka bawa menyuarakan "Solidaritas Peduli Muslim India". Hal ini menyikapi dugaan terjadinya pelanggaran HAM terhadap minoritas Muslim di India.


Sekitar pukul 13.00 WIB tampak para peserta aksi mulai memadati area depan Gedung Kantor Wakil Rakyat tersebut. Massa yang berasal dari berbagai elemen umat Islam tersebut berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, tepatnya dari Pasuruan, Malang, Jember, Madiun dan Madura juga dari Gresik, Lamongan, Bojonegoro dan berbagai wilayah lainnya. 

Masa aksi terlihat membawa bendera hitam dan putih bertuliskan kalimat tauhid dengan berbagai ukuran. Tampak pula bendera komunitas-komunitas Hijrah dan Forum Kajian Majelis Taklim. Diantaranya nampak bendera Forum Umat Islam Bersatu Surabaya, Forum Komunikasi Ulama Aswaja, Forum Aspirasi Rakyat, GAMAN, PMPI dan Lembaga Bantuan Hukum Pelita Umat serta banyak lagi komunitas-komunitas lain.

Dari Panitia Aksi disebutkan selain mengadakan Aksi perwakilan Tokoh dan Ulama yang hadir rencananya akan diterima oleh Perwakilan Komisi DPRD Provinsi Jawa Timur untuk melakukan audiensi soal Pelanggaran HAM yang di terima Muslim di India, yg dipicu Kebijakan diskriminatif rezim India.

Masih menurut panitia aksi, rencananya aksi akan berlangsung hingga pukul 15.00 WIB. Saat ini Mobil komando sudah mulai memberikan instruksi kepada para peserta aksi, untuk tetap menjaga ketertiban agar tidak mengganggu pengguna jalan.

Salah seorang peserta berharap melalui aksi semacam ini akan menggugah mata dunia yang saat ini terdiam tidak bersuara atas semua penindasan yang terjadi di India. "Semoga ini akan menjadi pesan menggugah untuk dunia agar lebih peduli terhadap kaum Muslim di India yang mengalami intoleransi, diskriminasi bahkan violensi". Tuturnya


Sampai berita ini ditulis aksi unjuk rasa ini masih berlangsung, dengan agenda mendengarkan orasi dari para Orator yang bergantian membeberkan fakta-fakta kekejaman yang dilakukan oknum Hindu Radikal di India, seraya meminta pemerintah melalui tentara Muslim melindungi saudara-saudaranya yang tengah tertindas. [NAZ]

Posting Komentar

0 Komentar