Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Ulama Aswaja Jawa Timur Menggelar Multaqo Mengambil Tema Menatap Masa Depan Dengan Islam

Allah Akbar! Ulama ASWAJA Jawa Timur Siap Menatap Masa Depan dengan Islam

Shautululama—Pandemi Corona yang telah melanda dunia telah memporakporandakan kapitalisme dan demokrasi. Demikian pula sosialisme-komunisme yang diusung Uni Soviyet sudah runtuh, namun ada yang masih menggagas kembali. Hal itu disadari dari China yang seolah-olah sukses keluar dari masalahnya. Padahal, baik kapitalisme maupun sosialisme hakikatnya rusak dan merusak, karena dibangung atas dasar kecongkakan manusia.

Untuk itulah, sebagai komitmen keumatan, Ulama ASWAJA dari seluruh penjuru Jawa Timur mengadakan Multaqa Ulama. Bertemakan “Menatap Masa Depan, Tinggalkan Kapitalisme, Demokrasi, dan Komunisme untuk Menuju Islam”, Ahad 28 Juni 2020 pukul 08.00-11.00 WIB

Kyai Muhammad Mashuri, Rois Multaqa tepat pukul 08.00 WIB membuka acara. Tak tertinggal Live Streaming melalui You Tube dan Zoom Meeting mampu menarik perhatian dan antusiasme umat. Tampak hadir ulama kharismatik dan pinunjul pejuang Islam Kaffah, di antaranya:

1.KH. Ihsan Abadi-Ulama Aswaja Jatim
2.KH. Abdul Fattah-MT Al Fattah Nganjuk
3.KH. Kholili PP. Bahrul Ulum – Jember
4.Habib Mudrik Al Kaff Majelis Rottibul Haddad – Pamekasan
5. KH. Bukhori Burhanuddin, PP. Al Muslimun-Magetan
6. Abah Imron, MT. Al Hijrah-Blitar
7. KHR. Kamil R. Sutastito, M.Ag - PP. Al Kamil - Surabaya
8. KH. Ahmad Rifa'i – PP. Islam Rohmatan Lil Alamiin-Tuban
9. KH. Fatkhurrahman S.Ag MT. Al Qolam – Gresik
10. KH. Mahmudi Syukri - Pengasuh PP. Baitul Muttaqin-Malang
11. Kyai Kamil Abdulloh - Pengasuh PP. Allami-Jember
12. Kyai Ahyani PP. Baitul Mubarak-Sidoarjo
13. KH. Abdul Hamid-PP. Al Hamidy - Pasuruan



Selain diikuti ulama pinunjul, tokoh umat, asatidz dan muhibbin pun hadir menyaksikan berlangsungnya Multaqa Ulama ASWAJA Jawa Timur. Agenda perjuangan ulama ini menunjukkan bahwa ulama barada di garda terdepan dalam perjuangan penerapan Islam Kaffah dalam Khilafah. Acara saat ini masih berlangsung dengan penyampaian Aqwal Minal Ulama secara bergantian.[hn]

Posting Komentar

0 Komentar