Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

FILM JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA: Di antara Pro dan Kontra.


Setelah viral atas dugaan pencatutan Prof. Peter Carey dalam diskusi bertajuk "Launching Film Jejak Khilafah di Nusantara" sebagai di beritakan republika https://republika.co.id/berita/qejcne377/profesor-carey-klarifikasi-diskusi-jejak-khilafah-nusantara

Beredar luas tulisan Ustadz Kondang Salim A. Fillah di jagad media sosial. Dimana dalam tulisan tersebut berisi pernyataan sangkalan atas pencatutan nama Peter Carey dalam Film Jejak Khilafah di Nusantara.

Hal ini ditanggapi oleh Prof. Suteki dalam tulisan berikut ini :

Komentar saya atas "kegelisahan" Sdr Salim A. Fillah terkait dengan pembuatan Film Jejak Khilafah di Nusantara:

1. Ulama adalah mereka yang hanya takut kepada Alloh dan berani membela kebenaran dan keadilan atas kemuliaan ajaran Islam, termasuk khilafah. 

2. Jejak khilafah tentu banyak versi dan mesti ada verifikasi dengan berbagai pihak. Pro kontra pasti terjadi dan pembuat film hrs siap dengan segala risiko.

3. Hendaknya segala permasalahan bisa diselesaikan secara internal umat Islam sehingga tdk melebar ke mana-mana dan menjadi bola liar. Yang rugi juga umat Islam sendiri.

4. Tanpa Sdr Salim A. Fillah pun, Khilafah akan tetap menandai jejaknya bersama para pengemban dakwah yang gigih, tak kenal lelah dan kalah.

5. Orang Jawa bilang: YEN WANI OJO WEDI-WEDI, YEN WEDI OJO WANI-WANI.

Tabik...!!!

Pierre Suteki
Semarang, Rebon Pon: 5 Agustus 2020

Posting Komentar

0 Komentar