Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

KH Mudhofir Affandi: Strategi Rasulullah Contoh Perubahan Hakiki yang Harus Diikuti

 


Lamongan (Muslim on Air)—Perubahan itu pasti. Bicara perubahan bukan persoalan revolusi semata. Rasulullah hadir di muka bumi juga telah melakukan perubahan besar. Inilah contoh yang harusnya menjadi tauladan bagi siapapun yang ikuti kesuksesan rasulullah.


KH Mudhofir Affandi (MT Mafatikhul Khoir) menjelaskan presentasi perubahan masyarakat Madinah pada Sarasehan Tokoh #2: Revolusi Akhlaq: Ke Mana Arah Perjuangan Umat Harus Dibawa?, Jumat (27/11/2020).


Berkaitan dengan perubahan yang terjadi, terdapat dua hal. Pertama, perubahan secara revolusioner yang bericiri waktunya singkat, mendasar, dan totalitas. Kedua, evolusioner yang berciri waktu sangat lama, bercabang, dan parsial (tambal sulam).


“Revolusi akhlaq jangan sampai seperti Arab Springs yang telah dibajak. Jadi harus diarahkan ke sistemik,”beber KH Mudhofir.


Contoh terbaik dalam perubahan ialah di Madinah. Sebelum ada dakwah, ekonomi dikendalikan Yahudi, politik dipegang suku Aus dan Khazraj (asal dari Yaman, penyembah berhala) dengan dukungan Yahudi, perang berkala suku Aus dan Khazraj atas hasutan Yahudi, masyarakat jenuh dengan sistem yang dijalankan, dipimpin penguasa: Abdullah bin Ubay bin Salul dari Khazraj.


Setelah ada dakwah, 2 topik diskusi masyarakat: Nabi dan Islam, rindu dipimpin oleh Nabi saw, dan rindu dikelola dengan sistem Islam.


“Perubahan di Madinah berlangsung secara revolusioner. Singkat, tidak sampai 2 tahun dakwah menyadarkan masyarakat. Dilakukan dengan Dakwah kepada simpul umat yakni kepala suku. Kedua, Dakwah dengan mengetuk pintu rumah, menemui warga di jalan, di sawah (penduduk Madinah bukan pedagang yang sering keluar kota, tetapi mayoritas petani yang banyak tinggal di dalam kota),”urainya.


Selain itu, terdapat Revolusi damai, atas dasar kesadaran, tidak dengan kekerasan. Wujudnya Revolusi pemikiran, ideologi: merubah pondasi pola pikir (aqidah), Merubah pola sikap (keterikatan terhadap syari’at, termasuk akhlaq), dan Merubah sistem tata kelola masyarakat (nidham).


Perubahan di Madinah dimotori juga oleh Mush’ab bin ‘Umair. Sosok pilihan yang dianugerahi Allah kelebihan dan bekal dalam dakwah. Sosok yang berpengalaman hijrah ke Habsyah dengan kemampuan tabligh yang mempesona.


Acara berlanjut dengan penjelasan KH Yasin Muthohar. Lebih dari seratus viewers menyaksikan langsung acara daring ini. Diskusi yang menarik dan bergizi penuh ilmu. Sarasehan ini harus menjadi acuan umat dalam merujuk suatu pembahasan.[hn]

Posting Komentar

0 Komentar