Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Komunitas Wartawan Bedah Buku tentang Kematian Demokrasi


Bedah Buku secara On Line, sebuah buku Best Seller Internasional 'HOW DEMOCRACIES DIE' digelar pada Sabtu 28 November 2020 selama 3 jam penuh mulai pukul 08.30 WiB, dipandu wartawan senior Dr. Dhimam Abror Djuraid.


Berawal dari twit Gubernur DKI Jakarta pada Ahad 22 November 2020, bersama fotonya yang sedang membaca buku di kursi kayu yang menyedot perhatian publik. Anies tampak sedang membaca serius buku How Democracies Die, tulisan duo profesor ilmu pemerintahan Universitas Harvard : Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt.


Demokrasi yang digagas filosof Yunani pada tahun 508-507 SM Cleisthenes yang disebut sebagai "bapak demokrasi Athena" didaur ulang saat Revolusi Perancis 

tahun 1789. Sampai saat ini, demokrasi masih dianggap atau dimitoskan sebagai konsep tatanan ideal, dengan otokritik terhadap demokrasi secara sporadis dari Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, Winston Churchill, Noam Chomsky sampai Steven Levitsky-Daniel Ziblatt.


Pembahas yang hadir dalam room zoom Bedah buku tersebut antara lain :

1. Prof. Suteki, S.H., M.Hum. - _Pakar Sosiologi Hukum Masyarakat dan Filsafat Pancasila_Gubes Undip

2. Prof. Dr.-Ing Fahmi Amhar- _Peneliti Senior dan Cendekiawan Muslim

3. Lukman Noerochim, M.Sc.(Eng), Ph.D._Peneliti FORKEI_Dosen teknik material ITS

4. Dr. Fahmy Lukman, M.Hum. - _Direktur Institute of Islamic Analysis and Development INQIYAD_

5. Dr. Nasrul Faqih Syarif, motivator nasional dan penulis buku.


Dr. Fahmi lukman mengupas akar demokrasi dari sekulerisme. Dr. Faqih menilai, demokrasi hadir sebagai bagian perang opini dengan Islam. Prof. Suteki memberikan opsi sistem Islam jika demokrasi benar-benar sekarat dan mati. Prof. Fahmi Amhar membahas dari aspek peradaban. Dan Lukman Noerochim Ph.D. secara tandas bahwa yang dibahas penulis buku harvard tidak substantif, hanya prosedural.


Bedah buku online tersebut dihadiri 284 partisipan dalam zoom, disiarkan di kanal jurnalis muslim Youtube : ada 124 subscribers baru, 2.500 playback, watching now 356 org dgn likers 393 org.


Tampak hadir peserta di kanal jurnalis muslim youtube : kota2 di Jawa Timur, Semarang, Bandung, Jakarta. Dari luar Jawa mulai dari Aceh, Dumai Riau, geser Kalimantan yaitu Tanjung Selor Kaltara, Ketapang Kalbar, Balikpapan, dan Kalsel. Sulawesi diwakili Gorontalo, Kendari, dan Makasar. NTB tidak ketinggalan. Bahkan ada yang dari Sydney (atas nama Abu Bayan).

Bedah buku ditutup dengan doa oleh Dr. Fahmi Lukman.[]

Posting Komentar

0 Komentar