Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Tegas !! Ditemui Gubernur, Ulama Jatim Serukan Boikot Produk Pemikiran Prancis

 


Surabaya (6/11), Perwakilan Alim ulama dalam aksi solidaritas bela rasulullah dihadappan gubernur jatim ajak untuk boikot pemikiran prancis yakni sekulerisme, memisahkan agama dengan kehidupan. 


"kita tidak cukup boikot produk-produk industri, tapi kita juga harus boikot produk pemikiran prancis yaitu sekulerisme yang sangat merusak." ujar Kyai Iffin masrukan ulama dari Gresik. 


Kyai Iffin juga menyebutkan Sekulerisme adalah akar masalah dari pelecehan terhadap agama Islam selama ini. 


"Sekulerisme ini muncul dari hasil revolusi prancis" jelasnya. 


Tampak beberapa alim ulama yang turut dalam audiensi ini diantaranya KH. Thoha Cholili bangkalan, Ust Ali Tamam dari Rumah Da'i Indonesia, Ust Fuadi dari ASOUM dll. 

Aksi mengecam presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai melecehkan nabi Muhammad SAW ini digelar selepas sholat jum'at berjalan dengan lancar dan dihadiri ribuan umat islam dari beberapa kota di Jawa Timur dengan mematuhi protokol kesehatan. (wan)

Posting Komentar

0 Komentar