Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Geram dengan Tak Samanya Perkataan dan Perbuatan, Ahmad Khozinudin: “Kekuasaan Itu Melayani Rakyat Bukan Oligarki”

 


PKAD—Permasalahan umat masih belum terselesaikan. Fenomena awal munculnya julukan The King of Lips Service ini nyatanya bukan mengkritik secara personal kepribadian sang penguasa namun tiada lain adalah sebuah representasi dari sebuah sistem politik yang dianutnya. Alih-alih hilang julukan negatif ini, muncul kembali istilah lain untuk memberikan label pada penguasa saat ini yaitu The King of Silent.


Insight PKAD ke #47 membahas tema “DARI THE KING OF LIPS SERVICE HINGGA THE KING OF SILENT. FENOMENA APA LAGI?” Senin (12/7/2021). Salah satu yang menjadi narasumber pada diskusi ini adalah Ahmad Khozunudin, SH, sebagai Advokat dan Pengamat Politik.


“Ketidaksesuaian antara kata-kata atau janji-janji dengan perbuatan atau bisa dibilang kebijakan yang dibuat oleh pemerintah,”ungkapnya. 


Hal ini pun berkaitan erat dengan tidak adanya kesesuaian antara norma yang diyakini dengan aktualisasinya. Lihatlah bagaimana jargon sistem politik demokrasi yang mengatakan bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat, namun faktanya kekuasaan itu tidak dikendalikan oleh rakyat. 


Tambahnya, “Kekuasaan itu tidak bisa melayani rakyat. Namun hanya oligarki yang bisa menguasainya. Inilah dasar Lips Service sesungguhnya yang harus dipersoalkan lebih dalam.”


Berkaitan dengan makna The King of Silent, Ahmad Khozinuddin mengatakan bahwa maknanya adalah absennya pemimpin dari persoalan bangsa. Pada dasarnya adalah ketidakhadiran dan ketidakmampuan sistem negara dalam menangani urusan masyarakat.


Acara ini pun dihadiri oleh Affandi Ismail sebagai Ketua Umum PB HMI MPO dan Shiddiq Robbani Sekjen PP Gema Pembebasan sebagai narasumber. Mereka pun diminta tanggapannya tentang The King of Lip Service presiden yang menjadi titik awal muncul seruan kepada rakyat untuk Revolusi Indonesia 2021, dan julukan The King of Silent kepada wakil presiden ini menyeruak juga di publik. 


Diskusi virtual ini dilakukan untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat tentang budaya menyampaikan aspirasi rakyat kepada negara secara lebih mendalam tanpa adanya kekerasan dan sifat anarkis.[]

Posting Komentar

0 Komentar