Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Achmad Michdan Bongkar Fakta Penanganan Kasus Terorisme di Insight PKAD

 


PKAD—Menyikapi penangkapan terhadap tiga ulama, yaitu Ustaz Ahmad Farid Okbah, Ustaz Anung Al-Hamad dan Ustaz Zain An-Najah. Tim Pengacara Muslim Achmad Michdan, SH berpendapat di kanal YouTube PKAD pada Jum'at (19/11/21), bahwa banyak tindakan yang dilakukan Densus 88 terlalu overprotektif. Hal ini terjadi ketika melakukan penangkapan terhadap para terduga terorisme. 


"Menurut hemat saya memang ada tindakan-tindakan yang sebetulnya overprotektif, yang dilakukan oleh densus 88 dalam penangkapan kasus terduga terorisme. Seharusnya itu tidak dilakukan,"jelas Achmad Michdan


Kemudian menurut Achmad Michdan tidak seharusnya penangkapan itu dilakukan secara paksa tanpa mengkonfirmasi dulu terhadap terduga. Seperti kasus penangkapan pada Munarman. Ketika itu beliau ditarik paksa tanpa dikonfirmasi terlebih dahulu. 


"Mestinya kalau dia diduga ada keterkaitan dalam tindak pidana terorisme yang tindakan itu tidak terlihat ada suatu kejadian yang langsung yang patut diduga digerakkan langsung oleh orang tersebut. Tentu itu bisa dengan cara dipanggil lebih dulu," Papar Achmad Michdan. 


Karena menurut Achmad Michdan, ketiga ustaz yang ditangkap itu mereka publik figur yang memiliki kehidupan yang tidak ngawur dan aktif dalam kegiatan berdakwah. Maka cukup dipanggil saja. 


"Kalau mereka dipanggil, masyarakat akan tahu ini loh keterkaitan Ustaz Farid Utbah kenapa ditangkap," Jelas Achmad Michdan. 


Selain itu terkait pasal 47 yang merupakan pembaharuan UU Terorisme no.5 tahun 2018, Achmad Michdan menyampaikan ada harapan dibentuknya lembaga pengawasan terhadap densus 88, bahkan ketika ada pelanggaran ketika terjadi penangkapan dengan melanggar HAM, maka oknum-oknum itu bisa terkena sanksi pidana. 


"Oleh karena itu nanti setelah mendapatkan pencerahan ini para ustaz bisa meminta kepada DPR agar densus 88 itu ada lembaga pengawasannya agar dia tidak bisa berbuat seenaknya," tegasnya


Dalam acara ini juga Achmad Michdan menekankan bahwa siapapun yang menjadi tersangka memiliki hak untuk memilih penasehat hukumnya bukan dipilihkan.

Posting Komentar

0 Komentar