Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

JALAN DAKWAH ITU INDAH, MAKA BERBAHAGIALAH DALAM DAKWAH


Oleh : Ahmad Khozinudin (Sastrawan Politik)


Jum'at kemarin (19/11), saya berjumpa dengan segenap pengemban dakwah di Kota Surabaya. Dalam forum yang hangat, saya diminta untuk menyampaikan sesuatu.


Awalnya saya bingung, ingin menyampaikan apa. Namun, penyampaian itu menjadi 'sesuatu' bukan karena bahasa tutur, tapi hakekat laku yang dijalani. Ada bahasa yang tidak berdampak, tidak menggugah, bahkan seperti ungkapan kosong yang diulang-ulang sehingga sangat menjemukan. Karena apa ? Karena bahasa laku terlalu jauh dengan bahasa tutur.


Saya mencoba mengawali, menyampaikan bahasa tutur dari laku yang pernah saya lakoni. 


Dahulu, sewaktu saya masih remaja dan tergabung dalam RISMA (Remaja Masjid Musholla), saya dan kawan-kawan sepantaran biasa diajari berorganisasi. Termasuk untuk dapat menyampaikan dalam berbagai forum, baik sebagai MC atau memberikan sambutan.


Dalam mukadimah, kami saat itu (hingga saat ini) selalu diajari untuk mengucap rasa syukur, atas karunia dan limpahan nikmat Allah SWT. Terutama, nikmat iman dan Islam.


Sayangnya, dulu saya tidak terlalu merasakan apa makna nimat 'iman dan Islam'. Baru setelah mengarungi samudera kehidupan, sangat terasa betapa luar biasanya nikmat iman dan Islam.


Seluruh nikmat yang Allah berikan, tidak akan bernilai tanpa iman dan Islam. Nikmat sehat, rezeki, keluarga, anak, harta, kedudukan, apapun itu jika tidak diletakkan di atas nikmat iman dan Islam menjadi tidak bernilai.


Tidak terbayang, jika dahulu saya dilahirkan dari rahim yang tidak mengenal akidah Islam. MasyaAllah, betapa besar nikmat iman dan Islam.


Hari ini, selain nikmat iman dan Islam ada lagi nikmat yang tak kalah luar biasanya. Ya, nikmat menjadi pengemban dakwah Islam.


Menjadi pengemban dakwah, harus dilakoni dengan pikiran senang dan dengan suasana batin yang bahagia. Sikap ini, akan membawa kita BAHAGIA DENGAN DAKWAH apapun kondisinya. Kita, juga tidak akan pernah merasa kecewa, karena dalam segala keadaan kita mendapatkan apa yang kita niatkan : Pahala dan Ridlo Allah SWT.


Dakwah dicibir, dihina, dizalimi, dikriminalisasi, tetap dapat pahala dan ridlo Allah SWT. Dakwah disambut, dihormati, dimuliakan, juga sama-sama dapat pahala dan ridlo Allah SWT.


Yang merugi itu, berdakwah diuji mengeluh, diberi kemuliaan sombong. Padahal, bukan itu tujuan dari dakwah.


Ada yang bertanya, bagaimana saya bisa enjoy menikmati dakwah. Membela ulama yang dikriminalisasi densus 88 misalnya. Secara umum, biasanya orang-orang takut membela perkara apalagi berhadapan dengan densus 88.


Saya hanya katakan, bahwa berdakwah itu sebuah aktivitas yang membahagiakan. Tidak perlu takut, bahkan orang-orang yang zalim seperti densus 88 inilah yang seharusnya ketakutan.


Densus 88 yang wajib ketakutan, karena telah berbuat zalim terhadap ulama. Densus 88 yang harusnya ketakutan karena menzalimi umat Islam berdalih memberantas terorisme. Bukan kita, yang menjalankan aktivitas dakwah, menyeru yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. 


Kita justru wajib bersyukur dan bahagia, karena bisa menunaikan amanah dakwah. Pilihan dalam dakwah, itu menang menang. Tidak ada menang kalah, apalagi kalah kalah.


Motto dalam dakwah itu 'ASY KARIMAN AU MUT SYAHIDAN', hidup mulia atau mati syahid. ini konsekuensi dalam dakwah, menang dan menang. tidak ada opsi untuk kalah.


Ya, saya menceritakan betapa saya menikmati dakwah. Menembus kota demi kota, bertemu dengan banyak tokoh dan ulama, umat Islam, dan terutama sangat berbahagia bertemu dengan sesama pengemban dakwah.


Setiap saya bertemu dengan wajah pengemban dakwah, seolah wajah itu berkata "Akulah kelak, yang akan menjadi saudaramu di Surga, sebagaimana kita telah dan akan selalu bersaudara dalam dakwah, di dunia..."


Subhanallah, dakwah itu membahagiakan. Jika engkau, belum menangis dan merasakan bahagianya berada di jalan dakwah, maka periksalah kembali niat....


Sungguh, untuk bahagia itu sederhana. Jangan menambah syarat kebahagiaan, sehingga engkau tiada pernah bertemu apalagi menikmati kebahagiaan. Berbahagialah dalam dakwah. [].

Posting Komentar

0 Komentar