Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Farid Wajdi Beberkan Wajah Dunia Islam Selama 2021 di Insight PKAD



PKAD: Menjelang akhir tahun 2021 Pusat Kajian dan Analisis Data menyelenggarakan Parade Refleksi Akhir Tahun, bertajuk, Wajah Dunia Islam Kini Dan Nanti". Live Insight #112 spesial tersebut, menghadirkan narasumber, Farid Wajdi S. IP (Direktur on Islamic World Studies) Jumat, (10/12/2021) 


Dalam pemaparan materinya, beliau mengungkap banyak hal seputar dunia Islam dan negeri-negeri Muslim. Dimulai dengan mengungkap penjajahan dan penindasan yang terjadi di Palestina oleh entitas Yahudi serta kaitannya dengan pengkhianatan penguasa Muslim.


“Penindasan tidak lepas dari pengaruh Barat. Dalam hal ini Amerika, untuk melanggengkan cengkraman kekuasaannya terhadap negeri Islam. Pengkhianatan yang nampak saat ini yang dilakukan penguasa Muslim adalah normalisasi terhadap Yahudi,”bebernya. 


Normalisasi adalah membuka hubungan diplomatik secara terbuka. Pun diketahui oleh negara lain setelah sebelumnya hubungan dilakukan secara diam-diam. Normalisasi yang dilakukan oleh penguasa Muslim sebenarnya dapat diartikan mengakui eksistensi Yahudi sebagai negara di Palestina. 


“Padahal Yahudi adalah pendatang haram, yang kedatangannya di tanah Palestina dibidani negara Inggris. Bahkan dapat dikatakan, normalisasi adalah membiarkan penjajahan oleh Yahudi atas Palestina,”jelas Farid. 


Adapun negara Indonesia, meski sampai sekarang belum melakukan normalisasi terhadap Yahudi tetapi dengan pernyataan, two nation state hakikatnya sama saja, yaitu mengakui Yahudi sebagai suatu negara di tanah Palestina.


Selain mengupas masalah Palestina, beliau juga mengungkap permasalahan negeri Muslim lainnya, seperti pembantaian yang dilakukan rezim Suriah terhadap rakyatnya, pengusiran dan penindasan terhadap Muslim Xinjiang, Irak, dan negeri negeri Muslim lainnya. Beliau juga ungkap, bagaimana upaya Barat dalam historinya untuk menempatkan agennya ditampuk kekuasaan, seperti yang dilakukannya pada negara Mesir, Arab, Libiya, Turki dan termasuk Indonesia.


“Ketakutan Barat terhadap kebangkitan Islam yang ditandai dengan Arab Spring dan geliat umat Islam untuk mengembalikan Khilafah. Khilafah sebuah negara yang akan menandingi dan menghilangkan hegemoninya. Untuk itu, Barat terus berupaya kuat menghalau, baik dengan kekuatan fisik ataupun non fisik terhadap berdirinya Khilafah,”cetusnya.


Diakhir penyampaian materinya, beliau menyatakan, upaya yang harus dilakukan untuk sebuah perubahan, adalah dengan menghilangkan penyakit ditubuh kaum Muslim. Penyakit tersebut yaitu, tidak diterapkannya syariat Islam secara kafah di negeri-negeri Islam dalam sebuah institusi Khilafah dan masih bercokolnya penguasa yang tunduk pada Barat, penguasa yang melestarikan penjajahan. 


Oleh karena itu dua hal itu harus dihilangkan dengan mewujudkan penerapan syariat Islam secara kafah dan mengganti pemimpin zalim, pemimpin tidak amanah, pemimpin ruwaibidah, pemimpin bodoh yang menyengsarakan rakyat dengan pemimpin yang amanah yang diridhai Allah SWT. []

Posting Komentar

0 Komentar