Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Refleksi Dunia Kesehatan 2021,dr. Ali: “Kalau Paradigmanya Tetap Tidak Akan Berubah”


PKAD- Paradigma yang benar seharusnya digunakan suatu negeri untuk menjadikan dirinya lebih baik dari waktu ke waktu. Namun hal ini berbeda jika paradigmanya tetap atau bahkan salah. dr. Mohammad Ali Syafi'udin, seorang dokter pemerhati kesehatan menyampaikan beberapa refleksi dan tawaran solusi bagi penanganan kesehatan negeri ini. Beliau menyampaikannya dalam [LIVE] Insight #116 Spesial Parade Refleksi Akhir Tahun 2021 Pusat Kajian Dan Analisis Data bertajuk "Diagnosis Kesehatan Masyarakat dan Sejarah Yang Tenggelam." (Senin, 20/12/2021)


"Untuk tahun 2022 kalau paradigmanya tetap, tidak berubah. Mungkin dari tataran teknis ada perubahan. Paradigma ini mencakup pembiayaan, tanggung jawab negara penuh untuk menangani kebutuhan pokok masyarakat (kesehatan, pendidikan, keamanan) kalau tidak ada perubahan akan tetap," pesan dari dr. Mohammad Ali.


Lanjut beliau menegaskan, "Habitatnya harus habitat Islam." Habitat berkaitan dengan paradigma. Ketika habitatnya benar sesuai Islam, maka paradigma yang dimiliki oleh negeri ini akan benar utamanya dalam penanganan kebutuhan pokok masyarakat seperti kesehatan, pendidikan, keamanan.


Beliau juga menyampaikan beberapa problem kesehatan 2021 di negeri ini, mulai dari tingginya angka kematian ibu dan bayi hingga karena penyakit.


"Problem kesehatan 2021 di negeri ini diantaranya angka kematian ibu dan bayi, kasus stunting, kasus TBC hingga kasus kematian akibat penyakit tidak menular masih tinggi," tutur beliau.


Sistem kesehatan utamanya negeri ini mengalami guncangan. Karenanya beliau menyampaikan tawaran solusi. Solusi ini sesuai dengan paradigma Islam. Hal tersebut telah terbukti mampu memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat dalam sejarah kemuliaan Islam.


"Ini penting sekali. Sistem kesehatan tidak berdiri sendiri pasti terkait dengan sistem-sistem lain. Dalam pandangan Islam, hukum yang satu tidak boleh dipisah-pisah antara kaitan dengan pendidikan, kesehatan, ekonomi," ungkap dokter pemerhati kesehatan ini.


dr. Mohammad Ali Syafi'udin mengungkapkan agar negeri ini mampu menanggung biaya kesehatan masyarakatnya maka paradigma pengelolaan kekayaan alamnya harus Islam.


"Kekayaan alam di Indonesia luar biasa banyak tapi dikelola asing-swasta. Ini satu problem negara tidak mampu menanggung biaya kesehatan. Jadi, harus dikelola dengan cara Islam. Paradigmanya harus diubah dengan paradigma sesuai Islam," pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar