Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Tiga Esensi Dalam Reunifikasi 212 Menurut Dr. Ahmad Sastra, M. M.




PKAD- Dr. Ahmad Sastra, M. M. dari Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa menyampaikan, "Nostalgia tidak salah asal sesuai esensi." Beliau selaku narasumber menjelaskan hal tersebut pada [LIVE] INSIGHT #108 Pusat Kajian Analisis Data bertajuk "Lika-liku Reuni 212: Nostalgia Atau Ukhuwah." (Rabu, 1/12/21)



Dr. Ahmad Sastra mengawali penjelasannya dengan mengingatkan betapa luar biasanya 212 sebagai bagian sejarah dari Indonesia. Lanjut, beliau menegaskan seputar esensi 212 yang harus terus-menerus dirawat utamanya oleh umat islam di Indonesia. Menurut beliau, reuni 212 adalah reunifikasi.


"Reunifikasi kalau menurut saya, sebuah ikhtiar untuk menyatukan hampir semua pergerakan dakwah di negeri kita. Bahkan perbedaan mahzab itu semuanya bisa bergabung bersatu dalam satu suara membela Islam," pendapat Dr. Ahmad Sastra.


Menurut beliau, esensi dalam reunifikasi 212 bisa dilihat dari tiga sisi yakni esensi ukhuwah, dakwah dan syariat. Reunifikasi saya lihat bisa dari 3 sisi:


1. Esensi ukhuwah, nampak suatu waktu umat islam dalam perbedaan organisasi, bahkan perbedaan mahzab sekalipun itu di dalam konteks Islam sudah selesai memang, saling menghargai, semuanya juga ada dalilnya misal dalam praktak-praktek ibadah. Namun dalam praktek keumatan adalah fardhu kifayah bisa bersatu.


2. Esensi dakwah. 212 berisi tausiyah dari berbagai tokoh, komponen umat, semua terlibat, memberikan pencerahan-pencerahan tentang Islam, kebangsaan, tentang bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi problem kebangsaan, politik, budaya, pendidikan, ini luar biasa.


3. Esensi syariat, bagaimana Islam begitu kuat nilainya baik secara normatif maupun aplikatif di lapangan. Ketika umat Islam didera dengan berbagai tuduhan radikalisme, terorisme, fundamentalisme, kemudian tuduhan memecah belah umat, memecah belah bangsa itu justru ditunjukkan dengan bagaimana Islam itu begitu indah ketika di lapangan. Bagaimana penjagaan terhadap kebersihan, keamanan begitu terjamin, kepedulian antar sesama muslim bahkan non muslim. 


“Justru itu adalah esensi syariat," tutur beliau merinci esensi dalam reunifikasi 212.

Posting Komentar

0 Komentar