Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Dr Ahmad Sastra: “Demokrasi Sistem Paradoks Tidak Sesuai Antara Ucapan dengan Kenyataan”

 


PKAD—Menanggapi pidato Megawati dalam HUT PDI-P ke 49, Dr. Ahmad Sastra menyampaikan bahwa demokrasi merupakan sistem yang selalu paradoks. Tidak sesuai antara apa yang diucapkan dengan kenyataan, rakyat juga sudah sangat tahu itu semua. Tetapi menurut Ahmad, yang menarik itu ketika bentuknya autokritik terhadap kadernya.


"Meskipun yang saya sayangkan juga bahwa kritik itu tidak dilengkapi dengan nama-nama." Ungkapnya dalam live diskusi Insight ke-126 Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD): Pidato Megawati di HUT PDI-P Ke 49: Kritik Menggelitik Pemerintahan Jokowi?, Rabu (12/01/2022) di YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data.


Ahmad menyampaikan jika tidak dilengkapi nama-nama ketika bicara benalu kemudian tidak disebutkan namanya yang jadi benalu itu siapa, maka ada beberapa kemungkinan. Dilihat dari sisi dimana seorang politisi menyampaikan gagasan dalam rangka ulang tahun partainya, maka secara umum akan disampaikan karena beberapa hal.


Pertama, tentu untuk menarik simpati rakyat. Karena rakyat Indonesia memang secara pemikiran politik belum matang. Begitu mudahnya rakyat bisa percaya hanya dengan kata-kata yang seolah membela mereka. Padahal setelah pemilu juga pun tidak ada perubahan. Tapi hal ini berulang-ulang terjadi. Dan dari dulu juga sudah seperti itu.


"Karena itu ini juga tidak jauh dari upaya-upaya untuk pemilu di masa mendatang ini. Dua tahun ke depan ini. Dan ini semata-mata untuk menarik simpati rakyat karena psikologi rakyat di negeri ini tu ya mudah sekali untuk cepat percaya, cepat tidak percaya dan mereka juga secara umum tidak memahami apa sesungguhnya politik itu gitu." Lanjut Ahmad.


Kemudian Ahmad mengira kalau dilihat dari esensi yang disampaikan terutama dari sisi autokritiknya, maka berarti kita juga bisa memaknai bahwa ini bagian dari delegitimasi lawan politik. 


“Kita juga tahu bahwa dalam demokrasi itu ada prinsip-prinsip bahwa tidak ada teman sejati, yang ada adalah kepentingan Abadi. Oleh sebab itu pertarungan politik dalam demokrasi sebenarnya bukan hanya antar partai tetapi juga di internal partai itu sendiri juga terjadi pertarungan sengit, bahkan jauh lebih sengit,”ungkapnya.[]

Posting Komentar

0 Komentar