Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Kritik Direktur Pamong Institute: Omong Kosong, Membasmi Korupsi Dalam Demokrasi



PKAD- Drs. Wahyudi Al-Maroky selaku Direktur Pamong Institute menyampaikan kritiknya terhadap beragam upaya membasmi korupsi ketika dalam demokrasi. Beliau menyampaikannya dalam [LIVE] Insight #129 Pusat Kajian Dan Analisis Data dengan tema "Plak!! Nasib Lapor Korupsi, Pak." (Rabu, 19/1/2022)


"Perubahan kepemimpinan dilakukan dengan pesta demokrasi. Omong kosong mau membasmi korupsi dengan menggunakan pola yang sama yaitu memilih pemimpin dengan cara pesta demokrasi berbiaya super mahal itu. Kalau itu terus terjadi, maka tidak mungkin membasmi korupsi, malah melakukan praktek-praktek korupsi dengan peraturan legal yang baru," urainya.


Lanjut, beliau mengurai tiga hal penting berkaitan dengan membasmi korupsi. Tiga hal yang dapat diupayakan oleh semua pihak utamanya berkaitan dengan pemimpin, sistem hukum dan kecerdasan publik.


"Ada tiga hal penting dalam membasmi korupsi, yakni: 1. Kita harus menciptakan penguasa yang bersih; 2. Membangun sistem-sistem yang mampu mencegah korupsi yaitu sistem hukum; 3. Kontrol publik yang ketat," jelas Direktur Pamong Institute.


Memang benar, ketika sistem hukum dan kehidupan yang meneladani model pemerintahan Rasulullah saw. dan dilanjutkan para Khulafaur Rasyidin salah satunya Khalifah Umar bin Khattab dan keluarganya menunjukkan hasil yang seharusnya diterapkan di negeri ini. Tindak korupsi para penguasa, keluarga dan pihak yang mengitarinya serasa tak tampak beragam kasus seperti halnya saat ini.


"Pemimpin itu bukan malaikat. Dia bisa salah atau dikelilingi oleh orang yang ingin berbuat salah. Publik bisa mengontrol dengan baik jika publiknya cerdas. Kesadaran politik publik juga mempengaruhi tingkat kecerdasan publik. Adapun kecerdasan publik, hal ini bisa ditingkatkan dengan terus banyak diskusi," pungkasnya. []

Posting Komentar

0 Komentar