Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Pemerhati Ekonomi, M Hatta: “Pindah Ibu Kota Tidak Akan Merubah Apapun”


PKAD—Mengkrirtisi perpindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur (Kaltim), Muhammad Hatta, M. Si. (Ekonom Syariah) menyampaikan ada kekhawatiran Indonesia akan bernasib sama seperti Kazakhstan dalam hal kondisi pasca pindah Ibu Kota, yaitu tidak akan membawa pada kesejahteraan rakyat, ujarnya dalam FGD ke-43 Pusat Kajian dan Analisa Data : IKN, Kenapa Harus Ditolak? (Sabtu, 29/01/22) di YouTube Pusat Kajian dan Analisa Data. 


"Dalam hal ini kami ingin memberikan sedikit gambaran perihal yang terjadi di Kazakhstan, dimana Kazakhstan telah melakukan pindah Ibu Kota sejak 2019 tapi keadaannya sama saja tidak ada perubahan pada kesejahteraan masyarakatnya bahkan beberapa pekan lalu terjadi kerusuhan besar-besaran karena Kazakhstan mengalami krisis energi, "ujarnya.


Lalu Hatta menambahkan, Kazakhstan sebagai negara yang memiliki sumber daya energi besar dengan jumlah populasi Kazakhstan hanya 18.395,6 juta jiwa, jauh dibandingkan dengan Indonesia sebesar 268 juta jiwa, seharusnya bisa menyejahterakan rakyatnya tapi nyatanya tidak.


"Hal ini juga terjadi di Indonesia, kalau kita melihat Jakarta sebagai Ibu Kota yang distribusi uangnya nomer satu di Indonesia tapi tingkat kemiskinan di tahun 2019 saja ada sekitar 3,4 persen atau 362 ribu jiwa," paparnya. 


Kemudian Hatta melanjutkan, lalu apa arti dari semua itu? Artinya, Ibu Kota baru tidak menjamin akan menyejahterakan rakyatnya, padahal Kazakhsatan baru saja melakukan pindah Ibu Kota Negara. Inilah yang dikhawatirkan akan terjadi di Indonesia.[]

Posting Komentar

0 Komentar