Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Respon Pemerhati Isu Internasional Terkait Invasi Rusia ke Ukraina: “Hendaknya Kaum Muslimin Bangkit dan Bersatu”


PKAD-Umar Syarifudin sebagai salah satu narasumber dalam [LIVE] Insight #143 Pusat Kajian Dan Analisis Data bertajuk "Ukraina Vs Rusia: Piala Dunia Atau Perang Dunia?" menyampaikan bahwa Presiden Rusia tentunya memiliki motif dalam penyerangan ke Ukraina. (Senin, 28/2/2022)


"Presiden Rusia tentu tidak ingin Ukraina bergabung dengan NATO. Harapan Rusia, Ukraina kembali ke pangkuan Rusia saja. Jadi jangan ikut-ikut pada poros Amerika," ungkap Umar Syarifudin yang juga menjadi pemerhati isu politik internasional.


Lanjut, Umar menjelaskan alasan mengapa Rusia memiliki harapan kepada Ukraina. "Karena NATO dianggap Putin (Presiden Rusia) sebagai poros Amerika. Kalau nanti Ukraina bergabung dengan poros Amerika tentu jika sewaktu-waktu meletus perang dunia ketiga/ perang regional/ perang regional yang berdampak internasional yang babak belur Rusia.”


Tambahnya, “Mudah sekali ibukota Moscow direbut oleh lawan politik Rusia. Bagi Putin tentu hal ini mengancam kedaulatan, keamanan dan kenyamanan berpolitiknya sendiri. Karenanya Rusia merasa disinggung kedaulatan atau kewibawaan Rusia sebagai raksasa regional terutama di Asia Utara," jelas beliau.


Ukraina memiliki beberapa kesamaan dengan Rusia. Inilah yang mengokohkan pandangan Rusia terhadap Ukraina. Pandangan Rusia hari ini tetap menginginkan Ukraina harus menjadi bagian Rusia. Karena Ukraina dinilai Rusia memiliki kedekatan budaya, bahasa dan politik. 


“Dalam hal politik, Ukraina sebagai taman depan jika sewaktu-waktu Rusia diserang lawan. Sejarah membuktikan bahwa saat Rusia dengan dikelilingi wilayah-wilayah yang tidak berseberangan dengan Rusia, mampu menjaga kepentingan Rusia sejak lama," tutur beliau.


Negara-negara besar ikut terlibat dalam konflik berujung perang ini. "Perang yang berkembang saat ini sekalipun cakupannya regional tapi melibatkan negara-negara besar. Para gajah sedang bertarung, maka jangan sampai akar rumput ini merasakan imbas penderitaan dari para negara imperialis seperti Rusia, Amerika dan Eropa ini. Invasi Rusia ke Ukraina ini tidak lepas dari narasi strategi politik Amerika Serikat. Hal ini menguatkan pada kita bahwa perang ini hanyalah perang untuk mengokohkan eksistensi Amerika Serikat khususnya kepada Asia dan Eropa," tegas Umar Syarifudin.


Beliau juga memberikan saran agar kaum muslimin di dunia muslim bangkit dan bersatu tidak terbawa narasi politik negara besar seperti Amerika Serikat yang saat ini menjadi negara pertama di dunia.


"Dunia muslim hendaknya tidak menunggu untuk dijajah lagi oleh Amerika Serikat. Dunia muslim harus pro aktif untuk mewujudkan persatuan, menolak keterlibatan rezim yang sedang berkuasa di dunia muslim ini untuk menjadi pengganti Amerika. Mereka bertugas untuk menjaga kepentingan Amerika Serikat termasuk tanduk politik Rusia dan Eropa. Hendaknya kaum muslimin bangkit dan bersatu," pungkas pemerhati isu politik internasional.[]

Posting Komentar

0 Komentar