Home

Temukan Informasi Terkini dan Terpercaya di PojokKota.com: Menyajikan Berita dari Sudut Pandang yang Berbeda, Menyajikan Berita Terkini Tanpa Basa-basi! www.pojokkota.com

Intervensi Asing dan Perang Ideologi: Pelajaran dari Venezuela

Oleh: Indha Tri Permatasari, S. Keb., Bd. (Aktifitas Muslimah) 


Intervensi Amerika Serikat ke Venezuela kembali membuka mata publik dunia bahwa dominasi global tidak selalu diawali dengan dentuman senjata. Dalam banyak kasus, intervensi militer justru menjadi tahap akhir dari rangkaian panjang tekanan asing yang sebelumnya bekerja secara sistematis melalui jalur ekonomi, politik, dan yang paling berbahaya, ideologi.


Intervensi asing dalam bentuk paling nyata memang diwujudkan melalui pengerahan militer ke wilayah negara lain. Namun, kondisi tersebut umumnya baru terjadi ketika negara yang menjadi sasaran telah berada dalam posisi sangat lemah. Kelemahan itu tidak hanya bersifat ekonomi dan politik, tetapi terutama kelemahan ideologi. Negara yang rapuh secara ideologi akan lebih mudah diarahkan, ditekan, bahkan dikendalikan tanpa perlu invasi terbuka.


Dalam konteks ini, intervensi militer dipahami sebagai pukulan terakhir. Sebelumnya, berbagai skema telah dijalankan, mulai dari tekanan ekonomi, sanksi, rekayasa politik, hingga pembentukan opini publik. Semua itu bermuara pada satu tujuan: menundukkan cara berpikir bangsa yang menjadi target. Sebab, sebuah bangsa sejatinya baru benar-benar takluk ketika pemikirannya telah dikuasai.


Perang ideologi menjadi instrumen paling efektif dalam proses tersebut. Melalui perang pemikiran, nilai, dan cara pandang asing disusupkan secara perlahan hingga diterima sebagai sesuatu yang wajar. Ketika sebuah negara telah menyepakati konsep kedaulatan versi asing—yang menempatkan hukum sekuler sebagai dasar dan menyingkirkan hukum Islam—maka intervensi ideologis sesungguhnya telah berhasil dilakukan.


Dampak perang ideologi tidak terjadi secara instan. Ia bekerja melalui pengaturan kehidupan masyarakat, mulai dari sistem ekonomi, politik, sosial, budaya, hingga pendidikan. Pengaturan ini secara perlahan membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat dalam jangka panjang. Ketika sistem tersebut dirasakan memberi kenyamanan, sementara alasan penerapannya tidak lagi dipertanyakan, di situlah ideologi asing mulai mengakar.


Ironisnya, dalam kondisi demikian, syariat Islam kerap diposisikan secara opsional—dapat diterapkan atau ditinggalkan—sementara kedaulatan rakyat dijadikan pijakan utama. Konsekuensinya, kepemimpinan pun berpotensi melahirkan figur-figur yang lebih tunduk pada kepentingan luar dibandingkan kepentingan umat. Di sinilah urgensi kesadaran politik Islam menjadi sangat penting agar ketahanan politik dapat dibangun dan intervensi asing dapat dicegah.


Selain ketahanan politik, ketahanan ekonomi juga menjadi pilar utama dalam menghadapi tekanan global. Ketahanan ekonomi tidak sekadar diukur dari pertumbuhan, tetapi dari kemampuan negara memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Ketika kebutuhan tersebut dapat dipenuhi secara mandiri, fondasi ketahanan ekonomi yang kokoh sejatinya telah terbentuk, terlebih jika sistemnya berlandaskan ajaran Islam.


Lebih dari itu, ketahanan ekonomi dituntut untuk menghadirkan keadilan dan keberkahan. Keadilan merupakan nilai universal yang dicari semua bangsa, namun keberkahan hanya dapat diwujudkan melalui ketaatan kepada Allah Swt., dengan menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya. Tanpa keberkahan, pertumbuhan ekonomi justru berpotensi melahirkan ketimpangan dan ketergantungan baru.


Pada akhirnya, upaya menghadapi intervensi asing menuntut pembinaan umat agar memiliki syakhsiyah Islam yang kuat, disertai penguasaan sains dan teknologi. Dengan kemampuan tersebut, pengelolaan sumber daya alam di negeri-negeri Muslim dapat dilakukan secara mandiri. Penerapan konsep ekonomi Islam, termasuk pengaturan kepemilikan umum—khususnya pada sektor tambang dan sumber daya strategis—menjadi kunci untuk menutup celah masuknya perusahaan-perusahaan imperialis yang kerap menjadi pintu awal intervensi asing.


Kasus Venezuela sejatinya bukan sekadar persoalan geopolitik regional, melainkan cermin bagi negeri-negeri lain, termasuk dunia Islam. Bahwa intervensi asing tidak selalu datang dengan senjata, tetapi kerap dimulai dari perubahan cara berpikir. Ketika ideologi dilucuti, kedaulatan pun perlahan direnggut.

Posting Komentar

0 Komentar