Oleh: Indha Tri Permatasari, S. Keb., Bd. ( Aktifis Muslimah)
Krisis kesehatan jiwa anak di Indonesia kian nyata dan tak bisa lagi dianggap sebagai masalah pinggiran. Berbagai kasus depresi, kecemasan, perundungan, hingga keinginan mengakhiri hidup pada anak menunjukkan bahwa generasi sedang berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Fakta yang dipaparkan Kementerian Kesehatan dan KPAI menunjukkan adanya empat faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup, yaitu konflik keluarga, masalah psikologis, perundungan, dan tekanan akademik. Ini menandakan bahwa persoalan kesehatan jiwa anak bukan sekadar masalah individu, tetapi terkait erat dengan lingkungan hidup dan sistem yang membentuk mereka.
Kenyataan ini harus dibaca lebih dalam. Anak-anak hari ini tumbuh di tengah dunia yang penuh tekanan, persaingan, tuntutan pencapaian, serta minim ketenangan. Mereka dibebani standar sukses yang tinggi, tetapi miskin makna hidup. Mereka dikelilingi teknologi dan hiburan, tetapi sering kehilangan rasa aman, kedekatan emosional, dan arah hidup yang benar. Inilah yang membuat krisis kesehatan jiwa anak tidak bisa dipisahkan dari krisis peradaban yang sedang terjadi.
Di sinilah liberalisme tampak sebagai akar masalah. Liberalisme menanamkan gagasan bahwa kebebasan individu adalah nilai tertinggi. Dalam kehidupan sehari-hari, paham ini melahirkan budaya yang mengagungkan kebebasan tanpa batas, mengejar kesenangan, dan menjadikan materi sebagai ukuran kebahagiaan. Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam dunia yang serba kompetitif dan individualistis. Mereka didorong untuk selalu unggul, selalu tampil baik, selalu diakui, dan selalu sukses secara materi. Saat gagal memenuhi standar itu, mereka mudah merasa kecewa, rendah diri, bahkan kehilangan harapan.
Liberalisme juga merusak bangunan keluarga. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru sering kehilangan fungsinya sebagai tempat pembinaan dan perlindungan. Orang tua sibuk mengejar tuntutan ekonomi, sementara hubungan emosional dengan anak semakin renggang. Anak kurang didengar, kurang dipahami, dan kurang mendapat pelukan kasih sayang. Tidak heran jika konflik keluarga menjadi salah satu faktor terbesar dalam gangguan kesehatan jiwa anak. Rumah yang semestinya menjadi tempat pulang, justru kadang menjadi sumber luka.
Dalam bidang pendidikan, liberalisme menjadikan sekolah sebagai arena persaingan. Anak-anak diukur dengan angka, ranking, prestasi, dan capaian akademik. Pendidikan tidak lagi berorientasi pada pembentukan kepribadian yang kokoh, tetapi lebih pada pencetakan manusia yang siap bersaing di pasar kerja. Akibatnya, tekanan akademik meningkat, sedangkan pembinaan iman, akhlak, dan ketahanan mental diabaikan. Anak mungkin tumbuh cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara jiwa.
Kondisi ini diperparah oleh hegemoni media kapitalistik global. Media sosial, industri hiburan, dan arus informasi digital terus menyebarkan nilai hidup yang jauh dari Islam. Anak-anak dijejali gambaran sukses yang serba materi, popularitas, penampilan fisik, dan validasi sosial. Mereka pun terbiasa membandingkan diri, mengejar pengakuan, dan merasa gagal saat tidak sesuai dengan standar semu tersebut. Dari sinilah lahir kecemasan, perundungan, rasa tidak berharga, dan keputusasaan.
Karena itu, solusi atas krisis kesehatan jiwa anak tidak cukup hanya dengan konseling, layanan psikologis, atau program teknis semata. Semua itu penting, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Islam menawarkan solusi mendasar dan menyeluruh karena Islam memandang manusia sebagai makhluk Allah yang hidup untuk beribadah kepada-Nya. Anak bukan hanya makhluk biologis atau aset masa depan, tetapi amanah yang wajib dijaga jiwa, akal, dan imannya.
Solusi pertama adalah mengembalikan pendidikan anak pada pondasi akidah Islam. Anak harus dibesarkan dengan pemahaman bahwa hidup adalah ujian, setiap kesulitan ada hikmahnya, dan kemuliaan tidak diukur dari materi atau pujian manusia, tetapi dari ketakwaan. Dengan akidah Islam, anak memiliki sandaran kuat saat menghadapi tekanan hidup. Ia memahami bahwa kegagalan bukan akhir segalanya, dan pertolongan Allah selalu dekat.
Solusi kedua adalah menguatkan keluarga sebagai benteng utama kesehatan jiwa anak. Islam menjadikan keluarga sebagai tempat lahirnya sakinah, mawaddah, dan rahmah. Orang tua wajib hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan spiritual. Anak perlu didengarkan, dipahami, diarahkan, dan dibesarkan dengan kasih sayang. Keluarga yang hangat dan bertakwa akan melahirkan anak yang lebih tenang dan kuat jiwanya.
Solusi ketiga adalah membangun sistem pendidikan yang berbasis syariat Islam. Sekolah harus menjadi tempat pembinaan kepribadian Islam, bukan sekadar tempat mengejar nilai. Guru harus menjadi pendidik dan teladan, sementara lingkungan sekolah harus bebas dari perundungan, tekanan berlebihan, dan budaya persaingan yang merusak.
Solusi keempat adalah menghadirkan negara sebagai raain dan junnah, yaitu pengurus dan pelindung rakyat. Negara wajib melindungi anak dan keluarga dari kerusakan nilai sekuler liberal kapitalistik. Negara harus mengatur pendidikan, media, kesehatan, dan ekonomi berdasarkan syariat Islam agar seluruh kebijakan berpihak pada keselamatan generasi.
Dengan demikian, krisis kesehatan jiwa anak hanya bisa diselesaikan secara hakiki jika akar masalahnya dicabut, yaitu sistem sekuler liberal kapitalistik. Islam hadir bukan sekadar memberi nasihat moral, tetapi menawarkan sistem kehidupan yang menjaga jiwa, akal, dan masa depan generasi. Hanya dengan kembali pada Islam secara kaffah, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang sehat jiwanya, kuat imannya, dan mulia kehidupannya.


0 Komentar