Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Pandemik Corona, Penjarahan Massal dan Perubahan Peta Tata Dunia Baru


Oleh Ki Tanggul

Masalah serius Wabah Corona di tengah situasi sekarang adalah penjarahan massal. Penanganan Wabah Corona bukan hanya soal mengantisipasi dan menyembuhkan penyakit yang cenderung meningkat cepat.

Melainkan kelesuhan ekonomi konsekuensi dari Social Distancing yang mulai mengarah pada pendekatan law of enforcement. Semakin menurunnya penghasilan masyarakat menengah bawah terutama pekerja dan usaha harian yang jumlahnya besar cepat lambat akan memicu kontraksi sosial.

Dalam kondisi sebelum Corona mewabah saja Indonesia sudah berpotensi krisis. Ketergantungan pada barang import untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Plus melemahnya produktifitas swasembada sektor strategis seperti pertanian, peternakan, dan perikanan semakin membuat Indonesia terpuruk.

Di sisi lain skema pengelolaan SDA melalui kerjasama investasi memposisikan Indonesia sebagai pihak yang merugi. Dalam banyak kasus praktik kelola investasi selalu menguntungkan investor. Padahal SDA adalah kepemilikan umum yang diamanatkan pada negara dikelola sebesar besar untuk kemakmuran rakyat.

Pemerintah pusat saat ini tidak punya duit. Kebijakan Lockdown Wilayah seolah melempar kewenangan tanggung jawab konsekuensi pemenuhan kebutuhan hidup pada Pemerintah Daerah. Pertanyaannya apakah Pemda/Pemprov memiliki cukup cadangan duit untuk memback up segala kebutuhan konsekuensi dari Lockdown Wilayah. Seberapa akselerasi kecepatan pemenuhannya.

Motif di balik alasan dimunculkan Lockdown Wilayah sebagai bentuk lempar tanggung jawab sudah banyak ditangkap oleh banyak kalangan. Menjadi buah bibir masyarakat di akar rumput. 

Cepat atau lambat jika tingkat resistensi sosial meninggi akibat kelaparan. Maka ledakan sosial dalam bentuk penjarahan massal pasti terjadi. Menyatu menjadi satu dengan kegagalan ekonomi penguasa karena kesalahan prioritas. 

Masa injury time keberadaan duit yang dimiliki pemerintah pusat dan daerah, berikut potensi duit yang dimiliki di tengah isu sudah keluarnya sekitar Rp. 1.000 triliunan di dalam negeri bersama dengan larinya para konglomerat ke luar negari karena phobia Corona. Demi mem back up kebutuhan hidup dalam beberapa bulan ke depan, akan menjadi pertaruhan seberapa jauh eksisting Indonesia sebagai nation state masih berlanjut atau tidak. 

Sebagaimana juga gambaran seberapa eksistensi berbagai negara dalam komando negara negara adi daya dalam kepemimpinan Kapitalisme global di tengah krisis ekonomi dan deraan Pandemik Global Corona. Nampaknya kita akan menyaksikan ke depan sebuah perubahan peta populasi sekaligus tata dunia baru di bawah kepemimpinan global pengganti Kapitalisme. Yang ditulis oleh NIC USA sebagai the New Caliphate. Allahu a'lam bis showab. []

Posting Komentar

0 Komentar