Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Nestapa Indonesia dalam Sepotong Kerupuk

 


FDMPB—Rasa kepedulian dan keprihatinan pada Indonesia ternyata mampu dilukiskan dengan bahasa sastra. Sajian unik dan menarik dalam puisi yang dibacakan intelektual yang sekaligus sastrawan, Dr Ahmad Sastra (Dosen Pascasarjana UIKA Bogor) di Forum Diskusi Online oleh Doktor Muslim Peduli Bangsa, Sabtu (15/8/2020) pukul 08.00-11.30 WIB.


Dalam sepotong kerupuk. Dr Ahmad Sastra merangkai dengan kata-kata yang mencerahkan dan mencerdaskan. Sangat dekat dengan nuansa kebatinan rakyat Indonesia. Jangan sampai Indonesia dalam nestapa seperti yang sudah-sudah. Berikut isi puisi yang menyentuh hati:


NESTAPA SEPOTONG KERUPUK

 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Menggema teriakan kata merdeka

Dari sudut-sudut kota 

Dari sudut-sudut desa 

Merah putih berkibar dimana-mana

Sebagai penanda bangsa merdeka 

Katanya...... 


Jika merdeka itu benar

Maka ekonomi bangsa ini mestinya makmur

Mengingat bangsa ini kaya akan sumber daya alam


Jika merdeka itu benar

Maka mestinya rakyat tak jadi babu di negeri orang 

Namun faktanya itu adalah ilusi 

Nestapa bagi rakyat 

Kekayaan negeri ini justru dikuasai asing 

Rakyat hanya kebagian sepotong kerupuk 


Sepotong kerupuk yang diikat tali 

Tangannyapun diikat 

Baru boleh menikmati kerupuk dengan mulutnya 

Sesekali tali itu digoyang

Hingga sepotong kerupuk itu sulit dinikmati 

Inikah kata merdeka itu 


Di saat para penjajah berebut kekayaan alam milik rakyat 

Ribuan ton emas digerus tanpa sisa 

Jutaan barel minyak bumi dihisap tiada tara

Sementara rakyat disuguhi sepotong kue kering 

Diikat di pucuk pohon pinang 

Basah dan licin oleh oli bekas 


Rakyat telanjang dada seperti budak romusa 

Berebut meraih sambil menginjak sesamanya  

Sesekali terjatuh dan tertimpa badan yang lain 

Tulang remuk, kulit lecet, roti kering tak terbagi

Karena terjatuh diatas lumpur basah  

Inikah kata merdeka itu 


Nestapa sepotong kerupuk 

Adalah cermin kemiskinan rakyat 

Adalah cermin ketidakberdayaan rakyat 

Dibawah neokolonialisme serakah 

Inikah kata merdeka itu 


Nestapa sepotong kerupuk 

Adalah cermin 

Atas ketidakberdayaan bangsa ini 

Atas keterjajahan bangsa ini 

Atas kesengsaraan rakyat jelata 

Hanya kebagian sepotong kerupuk 

Itupun hanya setahun sekali 

Tak pula langsung diberikan 

Tapi diikat dan dipermainkan 


Nestapa sepotong kerupuk 

Adalah cermin 

Bangsa ini 


Nestapa 

Sepotong 

Kerupuk 


Itupun hanya setahun sekali


====


Pembacaan puisi ini menambah pemahaman dari sudut pandang lain terkait kondisi negeri ini. Sementara itu, acara masih berlangsung dan disaksikan lebih dari 400 penonton online.[hn]

Posting Komentar

0 Komentar