Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Nicko Pandawa Sutradara Film Jejak Khilafah di Nusantara, terlihat sedang meneliti Makam Kuno?

Menekuni inskripsi makam seorang pembesar Aceh di masa-masa awal terbentuknya kesultanan ini. Inilah makam Sultan 'Ali Mughayat Syah (w. 1530).

Di atasnya nisannya, terukir sebuah kalimat luar biasa yang diilustrasikan sebagai sifat Sultan 'Ali Mughayat Syah, yaitu

الغازي في البر و البحر ينصره الله

Petarung di darat dan di laut, semoga Allah senantiasa menolongnya.

Dan memang, tatkala kita buka kitab-kitab tarikh, beliaulah yang begitu tangguh untuk menghajar orang-orang kaphe Portugis yang cari gara-gara di sepanjang Selat Malaka. Beliau juga yang menggalakkan jihad untuk menaklukkan wilayah-wilayah di Sumatera agar menjadi dar al-Islam.

Di atas semua itu, Sultan 'Ali Mughayat Syah tetap menyadari kedudukan dirinya. Ia menyadari bahwa masih ada kekuasaan yang lebih tinggi dibanding Kesultanan Aceh. Maka tak heran, apabila beliau menunjukkan kesetiaannya dengan membai'at Sultan Selim I, penguasa pertama dari kalangan Utsmaniyyah yang menjabat sebagai Khalifah dan Amir al-Mu'minin, dan menjalin komunikasi mesra dengan wazir agung Khalifah, Sinan Paşa.

Rahimahullah, Sultan 'Ali Mughayat Syah.

Posting Komentar

0 Komentar