Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Prof. Daniel: Guru Besar dan Mahasiswa (soal Gelar King of Lip Service)

 


Guru Besar dan Mahasiswa

Daniel Mohammad Rosyid

Ketika saya kirimkan berita ke seorang guru besar soal BEM UI memberi Jokowi gelar King of Lip Service, dia menjawab bahwa UI sudah kenyang dengan permainan politik. Jika guru besar harus mengambil sikap politik, itu tidak sesuai dengan prinsip UI sebagai Rumah Pengetahuan. Adalah tugas utama universitas untuk menciptakan pengetahuan. Namun perlu diingat, bahwa kampus tanpa mahasiswa hanya gudang megah dan dosen-dosennya satpam berdasi. Siapakah yang bertanggung jawab dalam penciptaan pengetahuan ini ? Bagaimana peran mahasiswa ? 


Sebagai seseorang yg pernah dilatih untuk berpikir hingga strata tertinggi, dan melatih para sarjana menjadi magister dan doktor, saya merasakan kebenaran sinyalemen Ben Anderson bahwa banyak kampus di Indonesia selama paling tidak 5 tahun terakhir telah dilanda penyakit profesionalisi. Saya hari ini menyebutnya profesionalisis sebagai penyakit. Para guru besar karena asyik dikejar publikasi, jika tidak terscopus mampus, mereka makin terasing dengan realitas kehidupan di luar kampus. Omongan dan diksi mereka makin sulit dipahami publik. Jelas kehidupan di dalam kampus lebih aman dan tentram, sementara kehidupan di luarnya penuh dinamika dan gejolak. 

Baca juga YNTKTS Sedang Populer Banyak Digunakan Netizen saat Berkomentar di Instagram dan Twitter, Maksudnya Apa?

Dalam proses knowledge creation ini, para ilmuwan sangat tergantung data. Dari data itu mereka mengolahnya, mencari hubungan-hubungan yang paling mungkin antara satu data dengan data lainnya. Satu atau beberapa variabel dengan variable lainnya. Alat itu disebut statistika. Dengan kehadiran internet dan medsos, berkembang pula sains data. Ada big data, data mining, sampai pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengolahan data. Jika 1954 Darrell Huff menulis how to lie with statistics, kemampuan sains data yang diterapkan melalui internet dan medsos saat ini mencapai taraf yang problematik : menggunakan data untuk melakukan disinformasi, memanipulasi kenyataan dan pengendalian perilaku massa. Perubahan sosial besar-besaran di Timur Tengah yg dikenal sebagai Arab Spring merupakan eksperimen sosial besar-besaran di zaman internet dan medsos. 


Ketersediaan data besar yg disediakan oleh internet dan medsos telah mendorong sains sosial ke arah rekayasa sosial hampir secara real time. Sebelumya, ilmuwan sosial harus menggunakan satu generasi atau lebih dalam kurun waktu bertahun-tahun untuk menguji kebenaran teori-teori mereka.  Perkembangan ilmu ekonomi sebagai mahkota ilmu sosial telah diwarnai oleh pendekatan matematika bahkan fisika. Ekonometri lebih dekat pada ilmu pasti daripada ilmu sosial. Demikian pula sosiometri berkembang dengan memanfaatkan big data dan kecerdasan buatan. 


Dalam hal dinamika politik penting saat ini, seperti biasa, data penting tidak lagi disediakan oleh ilmuwan. Mereka hanya menonton. Hampir selalu demikian.  Apalagi guru besar. Mereka menunggu data untuk diolah lalu berteori. Data-data itu disediakan oleh mahasiswa. Kali ini persediaan data itu diorkestrasikan oleh BEM UI. 


Dengan harap-harap cemas, mungkin para gurubesar sedang menguji satu hipotesis : jika bualan sudah melebihi takaran maka rakyat mual, sebal dan rezimpun tanggal. Saya tidak tahu apakah para gurubesar itu sadar bahwa teorinya dibangun di atas data yang disediakan mahasiswa dengan keringat, darah dan airmata. 


Jatingaleh, 30/6/2021

Posting Komentar

0 Komentar