Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Peneliti FORKEI Kritisi Deforestasi dan Perubahan Iklim Dunia


PKAD--Menanggapi isu perubahan iklim dunia saat ini, Lukman Noerochim menyampaikan perubahan iklim merupakan isu lama. Lukman hadir pada Insight #98 PUSAT KAJIAN DAN ANALISIS DATA.


Sejak tahun 1988 sebuah organiasasi internasional IPCC (The Intergovermental Panel on Climate Change) secara konsisten menilai perubahan iklim di dunia.

Tercatat pada tahun 2012, selang waktu antara tahun 1980-2012 menunjukan peningkatan suhu permukaan rata-rata global naik sekitar nol koma sembilan derajat.


“Itu sebenarnya nggak sampai menyentuh satu derajat. Tapi kenaikan itu sebenarnya sudah lumayan berpengaruh cukup besar,"ungkpanya pada Senin (8/11/2021). 


Tambahnya lagi, "Mungkin kita melihatnya oh cuman naik satu derajat saja. Padahal bagi bumi itu berpotensi menimbulkan perubahan iklim yang ekstrim,” Ungkap Peneliti Forum Kebijakan Energi-FORKEI tersebut.


Menurut prediksi dalam laporan tahun 2018, IPCC mencatat akan ada kenaikan suhu tiga sampai empat derajat lagi sebagai akibat dari pemanasan global pada tahun 2100 mendatang.


Terkait prediksi ini, Lukman berkomentar, “Bayangkan ya, ini saja kenaikan satu derajat sudah begini ekstrim perubahan yang terjadi. Cina, Eropa, banjir bandang. Di Belanda yang mungkin kita kenal sebagai negara yang sangat luar biasa teknologinya untuk mengatur hidrologi, teknologi pengaturan air, banjir. Bayangkan bagaimana dampak luar biasanya."


Kemuadian Negara-negara Eropa juga termasuk mengalami efek dari perubahan cuaca yang ekstrim ini. Di Indonesia juga kita rasakan akhir-akhir ini begitu luar biasa.


 Lukman turut menyampaikan bahwa pemanasan global saat ini adalah fakta yang tidak bisa kita pungkiri. Sebagaian besar terjadi karena efek rumah kaca atau esimisi dari gas buang khususnya karbon dioksida yang terutama melibatkan aktifitas industri. 


Sebagaimana yang kita ketahui, pemilik industri global di dunia, penyumbang terbesar esimisi dari gas buang khususnya karbon dioksida. Para pelaku utamanya adalah Amerika Serikat, Cina, dan India.


Acara diskusi berlangsung menarik dan mendapatkan apresiasi dari akademisi Universitas Riau yang hadir di ruang zoom. Pemirsa yang hadir di LIVE Youtube juga mendapatkan pencerahan yang bagus.[]

Posting Komentar

0 Komentar