Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Kritisi Survey Publik, Dr Erwin Permana Ingatkan Agar Negara Hadir di Tiap Individu Rakyat


PKAD—Akar persoalan negeri ini terletak pada implementasi sistem sekuler. Hal tersebut disampaikan ketika [LIVE] Insight #120 Pusat Kajian Dan Analisis Data bertema "71,7% Publik Puas Kinerja Jokowi: Serius Atau Harapan Pupus?" oleh Dr. Erwin Permana. Beliau juga mengatakan agar masyarakat memahami maksud dari kebijakan publik. Selain itu beliau juga memberikan pesan bagi masyarakat jika hendak disurvei pada Rabu, (29/12/2021).


"Hasil survei dengan realitas di lapangan ada perbedaan," respon awal yang diungkapkan Dr. Erwin Permana ketika angka 71,7% publik puas terhadap kinerja presiden saat ini.


Lanjut, beliau menyampaikan makna kebijakan publik sehingga dapat dijadikan pertimbangan terhadap hasil survei yang berbeda dengan fakta di lapangan tersebut.


"Kebijakan publik secara sederhana itu kebijakan pemerintah untuk mensejahterakan tiap-tiap individu warga negara. Dikatakan gagal jika ada satu individu warga negara mati karena kelaparan. Melalui kebijakan publik itu pemerintah memastikan hadir pada tiap-tiap individu warga negaranya," urainya.


Negeri ini dirundung persoalan yang tak kunjung usai. Kemiskinan, kriminalitas hingga beragam kesulitan ekonomi dan bidang kehidupan lainnya. 


"Masyarakat mengalami tingkat kemiskinan tinggi, bencana banjir, dan lain lain. Sedangkan penguasa kekayaannya berlipat. Sulit kita menjelaskan secara riil kondisi ini. Karenanya negeri ini tidak baik-baik saja. Selain itu, ada hal mendasar yang harus diperhatikan yaitu siapa yang menjalankan negara. Seharusnya ada kesadaran padanya yakni takut kepada Allah SWT.," tutur Dr. Erwin Permana.


Pengamat kebijakan publik ini juga menambahkan adanya kesalahan orientasi pembangunan di negeri ini. 


"Kesalahan orientasi karena memandang pembangunan hanya fisik. Padahal yang juga penting yaitu pembangunan manusia. Pembangunan manusia butuh teladan dari pemimpin. Pembangunan manusia tidak akan mengabaikan pembangunan fisik," ungkap pengamat kebijakan publik ini.


Dr. Erwin Permana memberikan pesan kepada masyarakat jika disurvei. Selain itu, tawaran solusi atas akar persoalan negeri ini juga beliau sampaikan di penghujung acara.


"Masyarakat harus mempunyai prinsip sebagai warga negara mereka adalah orang yang mulia, tinggi dan layak untuk melakukan hal-hal yang besar. Karenanya masyarakat tidak akan mudah menggonta-ganti pilihan ketika disurvei," harapan beliau.


Keinginan ideal kita adalah menyejahterakan kehidupan bagi tiap-tiap individu warga negara. Dr. Erwin pun menawarkan solusi untuk publik agar merasakan sebenarnya kondisi yang tidak cukup diukur dengan survei namun beda secara fakta di lapangan. 


"Cita-cita kita adalah menjadi negeri yang sejahtera gemah ripah loh jinawi. Karenanya kita harus sadar kondisi yang ada dan solusi sesuai perubahan menuju kondisi ideal.

Akar persoalannya adalah implementasi sistem sekuler, kerangka politiknya demokrasi, sehingga manusia didekte oligarki dalam kebijakan. Solusi utamanya kembali pada penerapan totalitas Islam," pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar